Penghitugan tahun dalam catatan sejarah islam sebelum hijrah biasanya menggunakan tahun pasca kenabian atau setelah diangkatnya Junjungan kita Muhammad sebagai Nabi dengan turunnya wahyu pertama di gua Hira’. Pada tahun ke lima pasca kenabian pemeluk islam dari suku Quraisy Makkah bertambah banyak. Keadaan ini membuat orang-orang kafir Quraisy gerah. Mereka bermusyawarah dan memutuskan untuk melancarkan terror terhadap pemeluk islam Makkah. Mereka siksa dan sakiti orang muslim Makkah. Sedangkan Rosulullah Muhammad SAW kala itu masih di dalam perlindungan pamannya Abi Thalib yang termasuk disegani bangsa Quraisy sehingga penyiksaan kaum kafir Makkah tidak sampai menyentuh beliau SAW.
Mempertimbangkan keselamatan ummatnya, Rosulullah SAW memerintahkan mereka hijrah ke suatu negeri yang bernama Habasyah. “Pergilah kalian ke Habasyah. Di sana ada seorang raja yang tidak pernah zhalim terhadap siapa pun. Berangkatlah hingga Allah menentukan kebahagiaan kepada ummat Islam,” demikian kiranya anjuran beliau. Habasyah kala itu dipimpin oleh seorang raja nashrani. Maka berangkatlah sebelas orang muslim laki-laki dan empat orang perempuan ke negeri Habasyah dengan sembunyi-sembunyi. Mereka adalah Utsman Bin Affan dan istrinya, Ruqayyah putri Rosul, Zubair Bin Awwam, Abdullah Bin Mas’ud, Abdur Rahman Bin Auf, Abu Hudzaifah bin Utbah dan istrinya Sahlah, Mush’ab bin Umair, Abu Salmah bin Abdil Asad dan istrinya Ummu Salmah Binti Umayyah, Utsman Bin Mazh’un, Amir Bin Robi’ah dan istrinya Laila, Hathib Bin Amar, dan Suhail Bin Baidha’. Mereka pergi dengan perahu yang dibeli seharga setengah dinar. Perjalanan ini tepatnya terjadi pada bulan Rajab tahun ke lima pasca kenabian.
Setelah kelompok pertama di atas, Ja’far Bin Abi Thalib dan sekelompok muslim berikutnya menyusul ke negeri Habasyah. Alhasil, jumlah muslim Makkah yang pergi ke sana mencapai delapan puluh dua orang, belum termasuk wanita dan anak-anak. Mereka tinggal di sana dalam keadaan aman.
Sejarah terus bergerak ke depan. Rosulullah SAW telah hijrah ke Madinah bersama kaum Muhajirin. Kafir Quraisy mengalami pukulan dahsyat dalam perang Badar di mana para pemuka dan pejuang hebat mereka gugur. Pukulan ini membuat mereka marah. Enggan menyerang Madinah, Kemarahan itu mereka lampiaskan dengan menjemput muslim yang berada di negeri Habasyah. Kata mereka, “Kemarahan kalian itu ada di tanah Habasyah. Maka berilah Negus (Gelar Raja Habasyah) yang bernama Ashimah hadiah. Utuslah dua orang mengantarkan hadiah itu agar dia menyerahkan orang muslim yang ada di Habasyah kepada kalian. Setelah itu, silahkan kalian bunuh mereka untuk keluarga kalian yang terbunuh di Badar.”
Amru Bin Ash (sebelum masuk islam) dan Abdullah bin Robi’ah resmi menjadi utusan kafir Quraisy menghadap raja Habasyah. Keduanya berangkat dengan membawa hadiah untuk raja agar dia menyerahkan orang-orang muslim kepada kafir Quraisy. Di hadapan raja Habasyah keduanya menyampaikan maksudnya.
“Wahai Raja, dari bangsa kami telah muncul seseorang yang mengaku Nabi. Nabi itu mengirim sekelompok sahabat-sahabatnya ke negerimu ini untuk merusak dan menghancurkan bangsamu. Kami dengan senang hati mengabarkan siapa sesungguhnya mereka itu. Dan sebenarnya bangsa kami di Makkah memintamu menyerahkan orang-orang itu kepada mereka,” kata keduanya dengan diplomasi yang cakap.
“Baiklah, sampai Kami memberi tahu orang-orang itu,” ujar Negus. Lalu ia memerintahkan orang untuk memanggil kaum muslimin. Singkat cerita, hadirlah orang-orang muslim di pintu Negus.
“Para Kekasih Allah meminta izin masuk kepadamu, wahai Raja,” kata para pengawal.
“ Izinkan mereka masuk. Selamat datang wahai para kekasih Allah,” sambut Negus.
Orang-orang muslim masuk dan mengucapkan penghormatan, “Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Wahai Raja, lihatlah mereka! Mereka tidak memberi penghormatan yang seharusnya kepadamu,” ujar sebagian kafir Quraisy.
“ Kenapa kalian tidak memberi penghormatan kepadaku sebagimana penghormatan yang seharusnya?” Tanya raja kepada orang-orang muslim.
“Kami memberi hormat kepadamu dengan penghormatan para penghuni surga dan penghormatan para malaikat, wahai Raja.” Jawab orang muslim pasti.
Dari sini terjadi dialog antara Negus dan orang Muslim yang dijurubicarai oleh Ja’far bin Abi Thalib. Mulailah Negus bertanya, “ Apa yang dikatakan sahabatmu, Muhammad, tentang Isa dan Maryam?”
Ja’far Bin Abi Thalib menjawab, “ Isa adalah hamba Allah, utusan-Nya, kalimah-Nya, dan Ruh dari-Nya yang ia tiupkan kepada Maryam. Sedangkan Maryam adalah perawan yang tidak menikah.”
Raja kemudian mengambil sepotong kayu dari bumi dan berkata, “Demi Allah, sahabatmu itu tidak menambahkan apa-apa yang dikatakan Isa meskipun seukuran kayu ini.”
Orang-orang musyrik yang ada di situ jengkel mendengar jawaban Negus. Wajah mereka tampak berubah dengan kebencian. Namun Negus tetap melanjutkan pertanyaannya, “Taukah kamu sebagian yang telah diturunkan kepada sahabatmu itu?”
Maka Ja’far BinAbi Thalib membacakan Surat Maryam. Di pertemuan ini terdapat para biarawan dan pendeta serta segenap orang nashrani lainnya. Mereka mengenal apa yang dibacakan oleh ja’far Bin Abi Thalib. Air mata mereka menetes deras. Mereka terus menangis tanpa henti hingga Ja’far selesai membaca.
“Pergilah kalian semua! Kalian di negeriku ini akan tetap aman,” kata Negus kepada Ja’far dan orang-orang Muslim. Sementara itu Kedua utusan kafir Quraisy pulang ke Makkah dalam perasaan takut.
Orang-orang muslim hidup di sisi Negus dalam tempat tinggal terbaik dan para tetangga yang terbaik pula. Hingga kedudukan Rosulullah dan orang muslim semakin kuat dan orang kafir semakin lemah pada kurun waktu tahun keenam pasca hijrah. Rosulullah menulis surat kepada Negus. Amr Bin Umayyah menyampaikan surat beliau itu yang berisi tawaran agar Negus berkenan menikahi Ummu Habibah binti Abi Sufyan yang juga telah hijrah ke habasyah bersama suaminya. Suaminya kini telah meninggal. Tawaran ini diterima Negus. Ia lalu mengutus hamba sahaya perempuan miliknya bernama Abrahah untuk menyampaikan pinangan Rosulullah untuk Sang Negus. Betapa senangnya Ummu Habibah. Negus memberikan mas kawin untuknya sebanyak empat ratus dinar sudah sedia dibawa oleh Abrahah.
Abrahah berkata, “ Engkau telah membenarkan Muhammad dan beriman kepadanya. Aku ingin engkau menyampaikan salam dariku untuknya.”
“Ya,” sahut Ummu Habibah. Maka kemudian pergilah Ummu Habibah ke Madinah. Namun Rosulullah SAW sedang di Khaibar (sebuah kawasan di luar Madinah). Ummu Habibah menetap di Madinah hingga Rosulullah tiba. Saat waktunya, ia masuk kepada Rosulullah dan menyampaikan salam.
“ Aku sampaikan salam dari Abrahah, hamba sahaya Negus: Assalamu ‘alaika Ya Rosulallah,” ucap Ummu Habibah.
Rosulullah menjawab salam Abrahah yang dibawa oleh Ummu Habibah, “’Alaiki wa ‘alaihassalam.”
Setelah itu, Ja’far Bin Abi Thalib pun bermaksud menghadap Rosul juga pada saat beliau masih berada di Khaibar. Ia bersama tujuh puluh laki-laki dengan pakaian wol (shuf. Konon kata sufi berasal dari kata ini). Tujuh puluh itu terdiri dari enam puluh dua laki-laki dari Habasyah dan delapan pendeta Syam (sekarang Syiria). Delapan pendeta itu adalah Buhaira dan tujuh sahabatnya, Abrahah, Asyraf, Idris, Tamim, Tamam, Duraid, dan Ayman. Para pendeta tersebut adalah dari kelompok orang-orang terdekat Negus.
Pertemuan berlangsung khidmat. Rosulullah membacakan surat Ya Sin di hadapan mereka hingga selesai. Seluruh mereka yang hadir menangis. Mereka beriman dan menyatakan masuk Islam.
“Betapa serupa dan sama bacaan tadi dengan apa yang turun kepada Isa Alaihissalam,” kata mereka penuh ketaatan dan keharuan.
Kalau ada yang dengan ‘ngotot’ ( mungkin ga terbiasa ‘ngotak’, ngelatih otak) bilang, “Itukan nashrani dulu. Nashrani sekarang sudah jauh lebih buruk dibanding pendahulu mereka,” maka tanggapan pernyataan ini menunjuk sepuluh jari kepada si pembicara. Maksud saya pernyataan di atas menyerang balik si pembicara, “Umat muslim dulu begitu arif dan lembut. Umat muslim sekarang jauh lebih buruk dibanding para pendahulu mereka.”
Kalau Ja’far Bin Abi Thalib mau membantai dua orang utusan kafir Quraisy maka hal itu sangat mudah. Rosulullah begitu akrab dan ramah kepada raja nashrani Negus. Beliau dan umat muslim tidak menjadi arogan meskipun di atas kertas pasti menang berperang untuk menundukkan mereka. Namun islam diturunkan untuk kasih sayang seluruh manusia dan alam semesta. Betapa arif dan lembutnya Rosulullah dan umat muslim kala itu. Dus, Silahkan menikmati indahnya introspeksi. Jika ada yang menghalalkan kekerasan, maka saya jadi orang pertama yang bersikap keras kepada kelompok garis keras. Namun tetap sambil tersenyum. Nyum, nyum, nyum.
Kalau masih orang keras itu (lebih bahaya dari air keras yang ini!)ngotot juga persilahkan dia membuka ayat tentang umat yahudi dan nashrani pada surat al maidah ayat 82. Ada catatan terakhir yang kita bisa fahami dari ayat yang saya rujuk, yakni mereka tidak menyombongkan diri. Antara tiga serangkai pemeluk agama langit ini, yang menyombongkan dirilah yang paling jauh dari rahmat Allah. Semoga kita dilindungi dari itu.
blog ahmad mustofa wajdi, goresan sederhana, seadanya, mengenai apa yang bisa dituliskan
Rabu, 09 Maret 2011
Minggu, 06 Maret 2011
Menjadi Hamba Saja
di antara manusia ada yang Allah berikan skenario hidup yang pahit. ia harus menjalani fase hidup dalam jurang kemaksiatan. di antara mereka ada pula yang Allah berikan peran sebagai ahli ibadah yang segenap waktunya ia habiskan untuk mengabdi kepada Allah.
dua peran ini adalah station atau maqam yang harus dilalui. jika salah satu dari mereka terperosok semakin jauh dalam kemaksiatan, atau terpesona dengan maqam ibadahnya, maka ia tidak akan sampai kepada Allah.
suatu hari seorang ahli ibadah (abid) dari kalangan bani israil sebelum islam berjalan di suatu kawasan. selama dalam perjalanan ia selalu dinaungi awan sebagai salah satu bentuk karamah yang Allah berikan kepadanya. tiba-tiba di hadapannya muncul seorang ahli maksiat (khali').
khali' membatin dalam hatinya, "ia adalah ahli ibadah. aku akan duduk bersamanya. barangkali saja melalui kebersamaanku denganya Allah akan mengampuni dosa-dosaku. Allah akan mengentaskanku dari jurang kemaksiatan."
mendekatlah khali' kepada 'abid. mereka duduk bersama. kini giliran sang 'abid bergumam dalam hati, "ia adalah ahli maksiat. kalau aku biarkan ia berlama-lama dekat denganku maka kesucianku bisa ternoda. kemuliaanku sebagai ahli ibadah bisa tercoreng. aku harus usir dia."
"pergi kau!"
sang khali' dengan perasaan hina meninggalkan 'abid. hatinya semakin hancur. jiwanya semakin merasa butuh kepada Allah. dirinya semakin merasa rendah di hadapan Allah.
setelah beberapa hari dari kejadian ini Allah mewahyukan kepada nabi di zaman itu untuk mengabarkan bahwa seluruh dosa khali' telah diampuni dan seluruh ibadah 'abid tertolak di sisi Allah.
awan yang dahulu selalu menaungi 'abid kini berpindah menaungi khali'.
teman-teman, maksiat yang diiringi kerendahdirian dan rasa butuh kepada Allah lebih baik dari pada ibadah yang diirigi rasa kagum diri dan kesombongan. karena pada hakikatnya kita adalah hamba saja yang tidak memiliki daya upaya apapun. ketaatan yang kita bisa laksanakan itu adalah berkat pertolongan Allah yang mendorong hati dan seluruh anggota tubuh kita untuk taat. bukan dari kita sendiri.
namun untuk menjadi lebih baik bukan berarti kita harus jatuh dulu dalam kemaksiatan. alangkah lebih baik ketaatan yang sudah kita lakukan sepenuhnya kita sempurnakan dengan tetap merasa rendah dan butuh kepada Allah. serta dengan tetap menghormati saudara kita yang masih dalam skenario kemaksiatan.
semoga Allah menjadikan kita orang-orang dengan kehambaan yang tulus di hadapan-Nya.
dua peran ini adalah station atau maqam yang harus dilalui. jika salah satu dari mereka terperosok semakin jauh dalam kemaksiatan, atau terpesona dengan maqam ibadahnya, maka ia tidak akan sampai kepada Allah.
suatu hari seorang ahli ibadah (abid) dari kalangan bani israil sebelum islam berjalan di suatu kawasan. selama dalam perjalanan ia selalu dinaungi awan sebagai salah satu bentuk karamah yang Allah berikan kepadanya. tiba-tiba di hadapannya muncul seorang ahli maksiat (khali').
khali' membatin dalam hatinya, "ia adalah ahli ibadah. aku akan duduk bersamanya. barangkali saja melalui kebersamaanku denganya Allah akan mengampuni dosa-dosaku. Allah akan mengentaskanku dari jurang kemaksiatan."
mendekatlah khali' kepada 'abid. mereka duduk bersama. kini giliran sang 'abid bergumam dalam hati, "ia adalah ahli maksiat. kalau aku biarkan ia berlama-lama dekat denganku maka kesucianku bisa ternoda. kemuliaanku sebagai ahli ibadah bisa tercoreng. aku harus usir dia."
"pergi kau!"
sang khali' dengan perasaan hina meninggalkan 'abid. hatinya semakin hancur. jiwanya semakin merasa butuh kepada Allah. dirinya semakin merasa rendah di hadapan Allah.
setelah beberapa hari dari kejadian ini Allah mewahyukan kepada nabi di zaman itu untuk mengabarkan bahwa seluruh dosa khali' telah diampuni dan seluruh ibadah 'abid tertolak di sisi Allah.
awan yang dahulu selalu menaungi 'abid kini berpindah menaungi khali'.
teman-teman, maksiat yang diiringi kerendahdirian dan rasa butuh kepada Allah lebih baik dari pada ibadah yang diirigi rasa kagum diri dan kesombongan. karena pada hakikatnya kita adalah hamba saja yang tidak memiliki daya upaya apapun. ketaatan yang kita bisa laksanakan itu adalah berkat pertolongan Allah yang mendorong hati dan seluruh anggota tubuh kita untuk taat. bukan dari kita sendiri.
namun untuk menjadi lebih baik bukan berarti kita harus jatuh dulu dalam kemaksiatan. alangkah lebih baik ketaatan yang sudah kita lakukan sepenuhnya kita sempurnakan dengan tetap merasa rendah dan butuh kepada Allah. serta dengan tetap menghormati saudara kita yang masih dalam skenario kemaksiatan.
semoga Allah menjadikan kita orang-orang dengan kehambaan yang tulus di hadapan-Nya.
Tajam Malam
sejenak ia merasuk sisi diri
menusuk bagian hati
sejak lalu berdiri tegap
tak pantang menatap
seperti angin yang helakan ingin
dalam sulbi terdalam
di deras musim yg mendingin
memanas terbakar tajam
malam,bawa aku berselimut
dengan satu kuasa
air mata menjadi kristal
udara amat mengental
berjibaku di bawah mega
yang perlahan surut
sengau suara rindu
mendengarkan asmaranya sendiri
kepada sederetan bisu
di tengah gemintang ini
aku ingin tepekur diguling bebas
mau bertarung digulung panas
kemudian renda-renda alam
sampaikan salam pada malam:
semua bukan dia
semua bukan aku
semua bukan kau
semua bukan kita
hening bening musnahkan cermin
pembawa gaduh dan hasrat
hancur melebur mengasin
dalam samudra tanpa peringkat
menangis teriris rindu mendalu
hendak hilang ke jeram
berliku berpacu menuju satu
gelap mencekam
dalam-dalam ku hisap
tembakau ku
tembak kau
mati terjerembab
selamat!
menusuk bagian hati
sejak lalu berdiri tegap
tak pantang menatap
seperti angin yang helakan ingin
dalam sulbi terdalam
di deras musim yg mendingin
memanas terbakar tajam
malam,bawa aku berselimut
dengan satu kuasa
air mata menjadi kristal
udara amat mengental
berjibaku di bawah mega
yang perlahan surut
sengau suara rindu
mendengarkan asmaranya sendiri
kepada sederetan bisu
di tengah gemintang ini
aku ingin tepekur diguling bebas
mau bertarung digulung panas
kemudian renda-renda alam
sampaikan salam pada malam:
semua bukan dia
semua bukan aku
semua bukan kau
semua bukan kita
hening bening musnahkan cermin
pembawa gaduh dan hasrat
hancur melebur mengasin
dalam samudra tanpa peringkat
menangis teriris rindu mendalu
hendak hilang ke jeram
berliku berpacu menuju satu
gelap mencekam
dalam-dalam ku hisap
tembakau ku
tembak kau
mati terjerembab
selamat!
Untuk Para Pendoa
suatu kali seorang laki-laki muda berdiri merenung di depan ruang ICU sebuah rumah sakit. tatapan matanya tertuju kepada sosok anak kecil yang terkulai lemah di salah satu ranjang perawatan. segala peralatan medis berikut selang-selang dan tabung-tabungnya melengkapi pemandangan ini. pandangan laki-laki itu penuh harap atas kesembuhan anak kecil yang ternyata adalah putra pertamanya.
tiba-tiba ia meraih telepon genggam dari salam saku bajunya. dia pencet tombol pemanggil dan tersambung. diangkat. suara dari sana belum sempat menyapa namun laki-laki itu lebih dulu menyeru, "halo, bagaimana? apa sudah ada pak ustadz?"
"belum pak. pak ustadz sedang ada acara tabligh di luar kota. ia tidak bisa hadir ke rumah kita," jawab suara di sana.
"terus siapa yang memimpin pembacaan doa dan alqur'an untuk sheilla?"
laki-laki itu panik menyebut anaknya yang sedang koma di ICU.
"ada aki amar. ia bersedia memimpin pembacaan doa di rumah."
"ya. siapa saja lah yang penting sheilla juga butuh doa. tidak hanya perawatan dokter saja." laki-laki itu menutup teleponnya.
aki amar adalah pria tua yang biasa membersihkan masjid. orang-orang semua tau bahwa aki tidak fasih dalam membaca alqur'an. doa-doa yang ia hafal juga hanya doa umum yang biasa, bukan hizib, bukan doa wirid dan zikir tertentu yang dimiliki ustadz-ustadz kondang.
acara pembacaan doa dan alqur'an pun dimulai di rumah. di tempat lain, di sudut ICU ayah sheilla menunggu anaknya dengan terus berharap dalam hati akan turunnya suatu keajaiban.
sheilla sudah 3 minggu di ruang ICU. tidak ada perkembangan pada kesehatannya. bahkan dokter dengan halus terus menasihati keluarga agar terus bersabar. karena harapan ada, namun amat tipis. ayah sheilla sibuk dengan peristiwa sebulan lalu saat pertama kali sheilla diantar ke rumah sakit. terus merenung dan berharap.
tiba-tiba mata sheilla yang selalu terpejam kini terbuka. ia seperti mengucapkan kata-kata, ayah. sang ayah begitu senang. ia pegang tangan anaknya dengan lembut.
singkat kata, setelah pembacaan doa yang dipimpin oleh aki amar keadaan sheilla membaik. pulih dan sehat kembali.
teman-teman, doa yang diucapkan dengan fasih dan lancar dari seorang kondang yang penuh pamrih duniawi tidak akan sampai pada Allah. karena bukannya merasa butuh kepada Allah, namun si pendoa malah terpesona dengan fasihnya bacaan dirinya sendiri. terpesona dengan lancar dan terpukaunya hadirin dengan doanya. terpesona dengan sanjungan dan popularitas.
namun doa seseorang seperti aki amar langsung Allah terima. karena doa itu keluar dari hati yang ikhlas, hati yang butuh kepada Allah, hati yang merendah. meskipun aki amar tidak fasih dalam melafazkan doa. meskipun ia tidak banyak menguasai ilmu agama.
semoga kita tergolong orang-orang yang ikhlas, butuh dan merendah kepada Allah. ya, hanya kepada Allah.
tiba-tiba ia meraih telepon genggam dari salam saku bajunya. dia pencet tombol pemanggil dan tersambung. diangkat. suara dari sana belum sempat menyapa namun laki-laki itu lebih dulu menyeru, "halo, bagaimana? apa sudah ada pak ustadz?"
"belum pak. pak ustadz sedang ada acara tabligh di luar kota. ia tidak bisa hadir ke rumah kita," jawab suara di sana.
"terus siapa yang memimpin pembacaan doa dan alqur'an untuk sheilla?"
laki-laki itu panik menyebut anaknya yang sedang koma di ICU.
"ada aki amar. ia bersedia memimpin pembacaan doa di rumah."
"ya. siapa saja lah yang penting sheilla juga butuh doa. tidak hanya perawatan dokter saja." laki-laki itu menutup teleponnya.
aki amar adalah pria tua yang biasa membersihkan masjid. orang-orang semua tau bahwa aki tidak fasih dalam membaca alqur'an. doa-doa yang ia hafal juga hanya doa umum yang biasa, bukan hizib, bukan doa wirid dan zikir tertentu yang dimiliki ustadz-ustadz kondang.
acara pembacaan doa dan alqur'an pun dimulai di rumah. di tempat lain, di sudut ICU ayah sheilla menunggu anaknya dengan terus berharap dalam hati akan turunnya suatu keajaiban.
sheilla sudah 3 minggu di ruang ICU. tidak ada perkembangan pada kesehatannya. bahkan dokter dengan halus terus menasihati keluarga agar terus bersabar. karena harapan ada, namun amat tipis. ayah sheilla sibuk dengan peristiwa sebulan lalu saat pertama kali sheilla diantar ke rumah sakit. terus merenung dan berharap.
tiba-tiba mata sheilla yang selalu terpejam kini terbuka. ia seperti mengucapkan kata-kata, ayah. sang ayah begitu senang. ia pegang tangan anaknya dengan lembut.
singkat kata, setelah pembacaan doa yang dipimpin oleh aki amar keadaan sheilla membaik. pulih dan sehat kembali.
teman-teman, doa yang diucapkan dengan fasih dan lancar dari seorang kondang yang penuh pamrih duniawi tidak akan sampai pada Allah. karena bukannya merasa butuh kepada Allah, namun si pendoa malah terpesona dengan fasihnya bacaan dirinya sendiri. terpesona dengan lancar dan terpukaunya hadirin dengan doanya. terpesona dengan sanjungan dan popularitas.
namun doa seseorang seperti aki amar langsung Allah terima. karena doa itu keluar dari hati yang ikhlas, hati yang butuh kepada Allah, hati yang merendah. meskipun aki amar tidak fasih dalam melafazkan doa. meskipun ia tidak banyak menguasai ilmu agama.
semoga kita tergolong orang-orang yang ikhlas, butuh dan merendah kepada Allah. ya, hanya kepada Allah.
Pelajaran Sederhana
tenang-tenang anakku
bau itu akan sirna bersama senyap ini
rapihkan tali guritamu pinta ibumu bahwa
ini adalah kekuasaan yang dipinjamkan
tidur-tidur anakku
dan bersama orang-orang yang lelap kau akan mengerti
betapa terjaga adalah sebuah
tanggung jawab
dengar-dengar anakku
ada rintik yang terus melukis atap dengan
kuas harapan ada angin
yang masih siulkan irama perubahan
lihat-lihat anakku
dengan ujung panah yang ku runcingkan untukmu sungguh
dari titik sebesar pori
cerita akan berubah melaju kepada
kesimpulan dari sana
ketiadaan membias kita
tanah asal darah udara air mani
cinta sunyi hasrat ramai hidup mati
pecahan kaca yang berbingkai keinginan
lekuk tubuh adalah fakta yang menghujani
kata-kata adalah berita yang menggenangi
permukaan sebenarnya tidak sampai tertandai
samar tetes air membulat membuat
gaung yang tersisa tersapu
deru mesin dan alam yang bergemuruh
pelajaran sederhana
hidup yang mengendap perlahan
diam-diam memendar dian-dian
kematian
tenang-tenang, kekuasaan yang dipinjamkan
tidur-tidur, tanggung jawab keterjagaan
dengar-dengar, irama perubahan
lihat-lihat, membias kita
bau itu akan sirna bersama senyap ini
rapihkan tali guritamu pinta ibumu bahwa
ini adalah kekuasaan yang dipinjamkan
tidur-tidur anakku
dan bersama orang-orang yang lelap kau akan mengerti
betapa terjaga adalah sebuah
tanggung jawab
dengar-dengar anakku
ada rintik yang terus melukis atap dengan
kuas harapan ada angin
yang masih siulkan irama perubahan
lihat-lihat anakku
dengan ujung panah yang ku runcingkan untukmu sungguh
dari titik sebesar pori
cerita akan berubah melaju kepada
kesimpulan dari sana
ketiadaan membias kita
tanah asal darah udara air mani
cinta sunyi hasrat ramai hidup mati
pecahan kaca yang berbingkai keinginan
lekuk tubuh adalah fakta yang menghujani
kata-kata adalah berita yang menggenangi
permukaan sebenarnya tidak sampai tertandai
samar tetes air membulat membuat
gaung yang tersisa tersapu
deru mesin dan alam yang bergemuruh
pelajaran sederhana
hidup yang mengendap perlahan
diam-diam memendar dian-dian
kematian
tenang-tenang, kekuasaan yang dipinjamkan
tidur-tidur, tanggung jawab keterjagaan
dengar-dengar, irama perubahan
lihat-lihat, membias kita
Keinginan dan Akal
ada banyak definisi tentang keinginan. setiap orang dengan latar belakang yang berbeda mendefinisikan keinginan dengan pengertian yang berbeda pula. lain motivator, lain pula mubaligh, dalam mendefinisikannya pada penjelasan. namun orang bijak, sebagaimana disitir oleh iwan fals dalam lagunya mendefinisikan: keinginan adalah sumber penderitaan.
Rob'iah Al Adawiiyyah sang sufi agung wanita didatangi Hasan Al Bashri. tokoh sufi ini mendatangi Robi'ah setelah beberapa waktu Robi'ah ditinggal wafat suaminya. ia datang untuk melamar dan menikahi sufi wanita ini. saat Hasan Al Bashri dan beberapa orang muridnya sampai di muka rumah Robi'ah, ia mempersilahkan rombongan untuk masuk ke dalam rumah. dengan tetap berbicara di balik tirai, Robi'ah bertanya kepada Hasan, "Ada tujuan apa tuan yang mulia datang ke rumah saya?"
"saya bermaksud melamar dan menikahimu," jawab Hasan.
"ada beberapa pertanyaan yang sejak lama mengganggu pikiranku. jika tuan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu maka saya boleh menjadi milik tuan," kata Robi'ah tegas.
"Jika Allah mengizinkan, saya akan menjawab pertanyaanmu."
"apakah tuan tau jika saya mati, meninggalkan dunia ini, apakah saya keluar dari kehidupan fana ini dengan selamat ataukah saya termasuk orang yang celaka?"
"itu perkara ghaib, hanya Allah lah yang tau perkara ghaib," sahut Hasan
"baiklah. jika nanti munkar dan nakir datang ke dalam kuburku, apakah aku bisa menjawab pertanyaannya ataukah aku akan disiksa karena tak mampu menjawab?" tanya Robia'ah kedua kali.
"itu juga perkara ghaib. tak ada yang tau perkara ghaib kecuali Allah," Hasan menanggapi.
"kali ini, apakah kau tau saat dibagikan buku catatan amalku di akhirat, apakah aku menerimanya dengan tangan kanan atau dengan tangan kiri?"
"pertanyaan ini pun gahib. cuma Allah yang tau perkara ghaib," Hasan masih belum bisa menjawab.
"yang terakhir tuan, ketika manusia dikumpulkan di padang mahsyar, sebagian digiring ke surga sebagian ke neraka. di mana kelompok mana aku berada pada hari itu?" tanya Robi'ah yang keempat.
"itu pun perkara ghaib. hanya Allah yang tau semua itu," Hasan menimpali.
"bagaimana mungkin perkara yang begitu besar ini memalingkan kita kepada keinginan-keinginan?!"
suasana menjadi lebih hening. orang-orang yang ada di tempat itu sibuk dengan perenungan. ada nuansa takut di ruang itu.
tiba-tiba Robi'ah memecah keheningan, "wahai tuan, berapa bagian Allah mencipatakan akal?" tanya Robi'ah.
"sepuluh. sembilan bagian Allah berikan kepada laki-laki dan satu bagian Allah berikan kepada perempuan," jawab Hasan.
"berapa bagian Allah menciptakan keinginan (syahwat)?"
"sepuluh. sembilan bagian Allah berikan kepada perempuan dan satu bagian Allah berikan kepada laki-laki."
"wahai tuan, saya bisa mengendalikan sembilan keinginan dengan satu akal yang Allah berikan kepada saya. kenapa tuan tidak bisa mengendalikan satu keinginan dengan sembilan akal yang sudah Allah limpahkan kepada tuan sebagai laki-laki?" tanya Robi'ah tenang namun tegas. Hasan Al Bashri menangis. juga seluruh yang hadir di tempat itu meneteskan air mata. rombongan pun pamit pergi dengan perenungan yang semakin menghunjam hati.
semoga Allah memeberikan kita pertolongan-Nya untuk mengendalikan keinginan-keinginan selain Allah.
Rob'iah Al Adawiiyyah sang sufi agung wanita didatangi Hasan Al Bashri. tokoh sufi ini mendatangi Robi'ah setelah beberapa waktu Robi'ah ditinggal wafat suaminya. ia datang untuk melamar dan menikahi sufi wanita ini. saat Hasan Al Bashri dan beberapa orang muridnya sampai di muka rumah Robi'ah, ia mempersilahkan rombongan untuk masuk ke dalam rumah. dengan tetap berbicara di balik tirai, Robi'ah bertanya kepada Hasan, "Ada tujuan apa tuan yang mulia datang ke rumah saya?"
"saya bermaksud melamar dan menikahimu," jawab Hasan.
"ada beberapa pertanyaan yang sejak lama mengganggu pikiranku. jika tuan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu maka saya boleh menjadi milik tuan," kata Robi'ah tegas.
"Jika Allah mengizinkan, saya akan menjawab pertanyaanmu."
"apakah tuan tau jika saya mati, meninggalkan dunia ini, apakah saya keluar dari kehidupan fana ini dengan selamat ataukah saya termasuk orang yang celaka?"
"itu perkara ghaib, hanya Allah lah yang tau perkara ghaib," sahut Hasan
"baiklah. jika nanti munkar dan nakir datang ke dalam kuburku, apakah aku bisa menjawab pertanyaannya ataukah aku akan disiksa karena tak mampu menjawab?" tanya Robia'ah kedua kali.
"itu juga perkara ghaib. tak ada yang tau perkara ghaib kecuali Allah," Hasan menanggapi.
"kali ini, apakah kau tau saat dibagikan buku catatan amalku di akhirat, apakah aku menerimanya dengan tangan kanan atau dengan tangan kiri?"
"pertanyaan ini pun gahib. cuma Allah yang tau perkara ghaib," Hasan masih belum bisa menjawab.
"yang terakhir tuan, ketika manusia dikumpulkan di padang mahsyar, sebagian digiring ke surga sebagian ke neraka. di mana kelompok mana aku berada pada hari itu?" tanya Robi'ah yang keempat.
"itu pun perkara ghaib. hanya Allah yang tau semua itu," Hasan menimpali.
"bagaimana mungkin perkara yang begitu besar ini memalingkan kita kepada keinginan-keinginan?!"
suasana menjadi lebih hening. orang-orang yang ada di tempat itu sibuk dengan perenungan. ada nuansa takut di ruang itu.
tiba-tiba Robi'ah memecah keheningan, "wahai tuan, berapa bagian Allah mencipatakan akal?" tanya Robi'ah.
"sepuluh. sembilan bagian Allah berikan kepada laki-laki dan satu bagian Allah berikan kepada perempuan," jawab Hasan.
"berapa bagian Allah menciptakan keinginan (syahwat)?"
"sepuluh. sembilan bagian Allah berikan kepada perempuan dan satu bagian Allah berikan kepada laki-laki."
"wahai tuan, saya bisa mengendalikan sembilan keinginan dengan satu akal yang Allah berikan kepada saya. kenapa tuan tidak bisa mengendalikan satu keinginan dengan sembilan akal yang sudah Allah limpahkan kepada tuan sebagai laki-laki?" tanya Robi'ah tenang namun tegas. Hasan Al Bashri menangis. juga seluruh yang hadir di tempat itu meneteskan air mata. rombongan pun pamit pergi dengan perenungan yang semakin menghunjam hati.
semoga Allah memeberikan kita pertolongan-Nya untuk mengendalikan keinginan-keinginan selain Allah.
Kemana Kau Cinta
ini kenduri atau diskotik
fasih kau lantunkan dalih itu
hatimu ke mana
merdu kau lagukan lirik itu
jiwamu merana
goyanganmu memabukkan
adik mudaku yang plin plan
busanamu hampir telanjang
membuat kami tercengang
sedari tadi kami pusing
tengah hari amat bising
butuh sejenak waktu
rehat dari genit bibirmu
yang monyong mencucu
menggoda kampung yang syahdu
di mana kau sembunyikan sawah ladang kita
sungai-sungai dan kerbau ayah
atau kau menjanjikan onta sebagai idola
kah di tanah ini?
fasih kau lantunkan dalih itu
hatimu ke mana
merdu kau lagukan lirik itu
jiwamu merana
berputar terus kau berputar
seperti kemidi di pasar
malam seperti komedi di mimbar
yang berkobar-berkobar
memabukkan saudara mudaku
menggelikan aku
ke mana kau cinta
dilego dengan wibawa
fasih kau lantunkan dalih itu
hatimu ke mana
merdu kau lagukan lirik itu
jiwamu merana
goyanganmu memabukkan
adik mudaku yang plin plan
busanamu hampir telanjang
membuat kami tercengang
sedari tadi kami pusing
tengah hari amat bising
butuh sejenak waktu
rehat dari genit bibirmu
yang monyong mencucu
menggoda kampung yang syahdu
di mana kau sembunyikan sawah ladang kita
sungai-sungai dan kerbau ayah
atau kau menjanjikan onta sebagai idola
kah di tanah ini?
fasih kau lantunkan dalih itu
hatimu ke mana
merdu kau lagukan lirik itu
jiwamu merana
berputar terus kau berputar
seperti kemidi di pasar
malam seperti komedi di mimbar
yang berkobar-berkobar
memabukkan saudara mudaku
menggelikan aku
ke mana kau cinta
dilego dengan wibawa
Langganan:
Postingan (Atom)