Laman

Minggu, 06 Maret 2011

Menjadi Hamba Saja

di antara manusia ada yang Allah berikan skenario hidup yang pahit. ia harus menjalani fase hidup dalam jurang kemaksiatan. di antara mereka ada pula yang Allah berikan peran sebagai ahli ibadah yang segenap waktunya ia habiskan untuk mengabdi kepada Allah.
dua peran ini adalah station atau maqam yang harus dilalui. jika salah satu dari mereka terperosok semakin jauh dalam kemaksiatan, atau terpesona dengan maqam ibadahnya, maka ia tidak akan sampai kepada Allah.
suatu hari seorang ahli ibadah (abid) dari kalangan bani israil sebelum islam berjalan di suatu kawasan. selama dalam perjalanan ia selalu dinaungi awan sebagai salah satu bentuk karamah yang Allah berikan kepadanya. tiba-tiba di hadapannya muncul seorang ahli maksiat (khali').
khali' membatin dalam hatinya, "ia adalah ahli ibadah. aku akan duduk bersamanya. barangkali saja melalui kebersamaanku denganya Allah akan mengampuni dosa-dosaku. Allah akan mengentaskanku dari jurang kemaksiatan."
mendekatlah khali' kepada 'abid. mereka duduk bersama. kini giliran sang 'abid bergumam dalam hati, "ia adalah ahli maksiat. kalau aku biarkan ia berlama-lama dekat denganku maka kesucianku bisa ternoda. kemuliaanku sebagai ahli ibadah bisa tercoreng. aku harus usir dia."
"pergi kau!"
sang khali' dengan perasaan hina meninggalkan 'abid. hatinya semakin hancur. jiwanya semakin merasa butuh kepada Allah. dirinya semakin merasa rendah di hadapan Allah.
setelah beberapa hari dari kejadian ini Allah mewahyukan kepada nabi di zaman itu untuk mengabarkan bahwa seluruh dosa khali' telah diampuni dan seluruh ibadah 'abid tertolak di sisi Allah.
awan yang dahulu selalu menaungi 'abid kini berpindah menaungi khali'.
teman-teman, maksiat yang diiringi kerendahdirian dan rasa butuh kepada Allah lebih baik dari pada ibadah yang diirigi rasa kagum diri dan kesombongan. karena pada hakikatnya kita adalah hamba saja yang tidak memiliki daya upaya apapun. ketaatan yang kita bisa laksanakan itu adalah berkat pertolongan Allah yang mendorong hati dan seluruh anggota tubuh kita untuk taat. bukan dari kita sendiri.
namun untuk menjadi lebih baik bukan berarti kita harus jatuh dulu dalam kemaksiatan. alangkah lebih baik ketaatan yang sudah kita lakukan sepenuhnya kita sempurnakan dengan tetap merasa rendah dan butuh kepada Allah. serta dengan tetap menghormati saudara kita yang masih dalam skenario kemaksiatan.
semoga Allah menjadikan kita orang-orang dengan kehambaan yang tulus di hadapan-Nya.

Tajam Malam

sejenak ia merasuk sisi diri
menusuk bagian hati
sejak lalu berdiri tegap
tak pantang menatap

seperti angin yang helakan ingin
dalam sulbi terdalam
di deras musim yg mendingin
memanas terbakar tajam

malam,bawa aku berselimut
dengan satu kuasa
air mata menjadi kristal
udara amat mengental
berjibaku di bawah mega
yang perlahan surut

sengau suara rindu
mendengarkan asmaranya sendiri
kepada sederetan bisu
di tengah gemintang ini

aku ingin tepekur diguling bebas
mau bertarung digulung panas
kemudian renda-renda alam
sampaikan salam pada malam:

semua bukan dia
semua bukan aku
semua bukan kau
semua bukan kita

hening bening musnahkan cermin
pembawa gaduh dan hasrat
hancur melebur mengasin
dalam samudra tanpa peringkat

menangis teriris rindu mendalu
hendak hilang ke jeram
berliku berpacu menuju satu
gelap mencekam

dalam-dalam ku hisap
tembakau ku
tembak kau
mati terjerembab

selamat!

Untuk Para Pendoa

suatu kali seorang laki-laki muda berdiri merenung di depan ruang ICU sebuah rumah sakit. tatapan matanya tertuju kepada sosok anak kecil yang terkulai lemah di salah satu ranjang perawatan. segala peralatan medis berikut selang-selang dan tabung-tabungnya melengkapi pemandangan ini. pandangan laki-laki itu penuh harap atas kesembuhan anak kecil yang ternyata adalah putra pertamanya.
tiba-tiba ia meraih telepon genggam dari salam saku bajunya. dia pencet tombol pemanggil dan tersambung. diangkat. suara dari sana belum sempat menyapa namun laki-laki itu lebih dulu menyeru, "halo, bagaimana? apa sudah ada pak ustadz?"
"belum pak. pak ustadz sedang ada acara tabligh di luar kota. ia tidak bisa hadir ke rumah kita," jawab suara di sana.
"terus siapa yang memimpin pembacaan doa dan alqur'an untuk sheilla?"
laki-laki itu panik menyebut anaknya yang sedang koma di ICU.
"ada aki amar. ia bersedia memimpin pembacaan doa di rumah."
"ya. siapa saja lah yang penting sheilla juga butuh doa. tidak hanya perawatan dokter saja." laki-laki itu menutup teleponnya.
aki amar adalah pria tua yang biasa membersihkan masjid. orang-orang semua tau bahwa aki tidak fasih dalam membaca alqur'an. doa-doa yang ia hafal juga hanya doa umum yang biasa, bukan hizib, bukan doa wirid dan zikir tertentu yang dimiliki ustadz-ustadz kondang.
acara pembacaan doa dan alqur'an pun dimulai di rumah. di tempat lain, di sudut ICU ayah sheilla menunggu anaknya dengan terus berharap dalam hati akan turunnya suatu keajaiban.
sheilla sudah 3 minggu di ruang ICU. tidak ada perkembangan pada kesehatannya. bahkan dokter dengan halus terus menasihati keluarga agar terus bersabar. karena harapan ada, namun amat tipis. ayah sheilla sibuk dengan peristiwa sebulan lalu saat pertama kali sheilla diantar ke rumah sakit. terus merenung dan berharap.
tiba-tiba mata sheilla yang selalu terpejam kini terbuka. ia seperti mengucapkan kata-kata, ayah. sang ayah begitu senang. ia pegang tangan anaknya dengan lembut.
singkat kata, setelah pembacaan doa yang dipimpin oleh aki amar keadaan sheilla membaik. pulih dan sehat kembali.
teman-teman, doa yang diucapkan dengan fasih dan lancar dari seorang kondang yang penuh pamrih duniawi tidak akan sampai pada Allah. karena bukannya merasa butuh kepada Allah, namun si pendoa malah terpesona dengan fasihnya bacaan dirinya sendiri. terpesona dengan lancar dan terpukaunya hadirin dengan doanya. terpesona dengan sanjungan dan popularitas.
namun doa seseorang seperti aki amar langsung Allah terima. karena doa itu keluar dari hati yang ikhlas, hati yang butuh kepada Allah, hati yang merendah. meskipun aki amar tidak fasih dalam melafazkan doa. meskipun ia tidak banyak menguasai ilmu agama.
semoga kita tergolong orang-orang yang ikhlas, butuh dan merendah kepada Allah. ya, hanya kepada Allah.

Pelajaran Sederhana

tenang-tenang anakku
bau itu akan sirna bersama senyap ini
rapihkan tali guritamu pinta ibumu bahwa
ini adalah kekuasaan yang dipinjamkan

tidur-tidur anakku
dan bersama orang-orang yang lelap kau akan mengerti
betapa terjaga adalah sebuah
tanggung jawab

dengar-dengar anakku
ada rintik yang terus melukis atap dengan
kuas harapan ada angin
yang masih siulkan irama perubahan

lihat-lihat anakku
dengan ujung panah yang ku runcingkan untukmu sungguh
dari titik sebesar pori
cerita akan berubah melaju kepada
kesimpulan dari sana
ketiadaan membias kita

tanah asal darah udara air mani
cinta sunyi hasrat ramai hidup mati
pecahan kaca yang berbingkai keinginan
lekuk tubuh adalah fakta yang menghujani
kata-kata adalah berita yang menggenangi
permukaan sebenarnya tidak sampai tertandai

samar tetes air membulat membuat
gaung yang tersisa tersapu
deru mesin dan alam yang bergemuruh
pelajaran sederhana
hidup yang mengendap perlahan
diam-diam memendar dian-dian
kematian

tenang-tenang, kekuasaan yang dipinjamkan
tidur-tidur, tanggung jawab keterjagaan
dengar-dengar, irama perubahan
lihat-lihat, membias kita 

Keinginan dan Akal

ada banyak definisi tentang keinginan. setiap orang dengan latar belakang yang berbeda mendefinisikan keinginan dengan pengertian yang berbeda pula. lain motivator, lain pula mubaligh, dalam mendefinisikannya pada penjelasan. namun orang bijak, sebagaimana disitir oleh iwan fals dalam lagunya mendefinisikan: keinginan adalah sumber penderitaan.
Rob'iah Al Adawiiyyah sang sufi agung wanita didatangi Hasan Al Bashri. tokoh sufi ini mendatangi Robi'ah setelah beberapa waktu Robi'ah ditinggal wafat suaminya. ia datang untuk melamar dan menikahi sufi wanita ini. saat Hasan Al Bashri dan beberapa orang muridnya sampai di muka rumah Robi'ah, ia mempersilahkan rombongan untuk masuk ke dalam rumah. dengan tetap berbicara di balik tirai, Robi'ah bertanya kepada Hasan, "Ada tujuan apa tuan yang mulia datang ke rumah saya?"
"saya bermaksud melamar dan menikahimu," jawab Hasan.
"ada beberapa pertanyaan yang sejak lama mengganggu pikiranku. jika tuan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu maka saya boleh menjadi milik tuan," kata Robi'ah tegas.
"Jika Allah mengizinkan, saya akan menjawab pertanyaanmu."
"apakah tuan tau jika saya mati, meninggalkan dunia ini, apakah saya keluar dari kehidupan fana ini dengan selamat ataukah saya termasuk orang yang celaka?"
"itu perkara ghaib, hanya Allah lah yang tau perkara ghaib," sahut Hasan
"baiklah. jika nanti munkar dan nakir datang ke dalam kuburku, apakah aku bisa menjawab pertanyaannya ataukah aku akan disiksa karena tak mampu menjawab?" tanya Robia'ah kedua kali.
"itu juga perkara ghaib. tak ada yang tau perkara ghaib kecuali Allah," Hasan menanggapi.
"kali ini, apakah kau tau saat dibagikan buku catatan amalku di akhirat, apakah aku menerimanya dengan tangan kanan atau dengan tangan kiri?"
"pertanyaan ini pun gahib. cuma Allah yang tau perkara ghaib," Hasan masih belum bisa menjawab.
"yang terakhir tuan, ketika manusia dikumpulkan di padang mahsyar, sebagian digiring ke surga sebagian ke neraka. di mana kelompok mana aku berada pada hari itu?" tanya Robi'ah yang keempat.
"itu pun perkara ghaib. hanya Allah yang tau semua itu," Hasan menimpali.
"bagaimana mungkin perkara yang begitu besar ini memalingkan kita kepada keinginan-keinginan?!"
suasana menjadi lebih hening. orang-orang yang ada di tempat itu sibuk dengan perenungan. ada nuansa takut di ruang itu.
tiba-tiba Robi'ah memecah keheningan, "wahai tuan, berapa bagian Allah mencipatakan akal?" tanya Robi'ah.
"sepuluh. sembilan bagian Allah berikan kepada laki-laki dan satu bagian Allah berikan kepada perempuan," jawab Hasan.
"berapa bagian Allah menciptakan keinginan (syahwat)?"
"sepuluh. sembilan bagian Allah berikan kepada perempuan dan satu bagian Allah berikan kepada laki-laki."
"wahai tuan, saya bisa mengendalikan sembilan keinginan dengan satu akal yang Allah berikan kepada saya. kenapa tuan tidak bisa mengendalikan satu keinginan dengan sembilan akal yang sudah Allah limpahkan kepada tuan sebagai laki-laki?" tanya Robi'ah tenang namun tegas. Hasan Al Bashri menangis. juga seluruh yang hadir di tempat itu meneteskan air mata. rombongan pun pamit pergi dengan perenungan yang semakin menghunjam hati.
semoga Allah memeberikan kita pertolongan-Nya untuk mengendalikan keinginan-keinginan selain Allah.

Kemana Kau Cinta

ini kenduri atau diskotik
fasih kau lantunkan dalih itu
hatimu ke mana
merdu kau lagukan lirik itu
jiwamu merana

goyanganmu memabukkan
adik mudaku yang plin plan
busanamu hampir telanjang
membuat kami tercengang

sedari tadi kami pusing
tengah hari amat bising
butuh sejenak waktu
rehat dari genit bibirmu
yang monyong mencucu
menggoda kampung yang syahdu

di mana kau sembunyikan sawah ladang kita
sungai-sungai dan kerbau ayah
atau kau menjanjikan onta sebagai idola

kah di tanah ini?

fasih kau lantunkan dalih itu
hatimu ke mana
merdu kau lagukan lirik itu
jiwamu merana
berputar terus kau berputar
seperti kemidi di pasar
malam seperti komedi di mimbar
yang berkobar-berkobar

memabukkan saudara mudaku
menggelikan aku
ke mana kau cinta
dilego dengan wibawa

Teladan Kanjeng Nabi

maulid sbg sebuah perayaan adlh wujud pemaknaan thd cinta Rosul.ada banyak pmaknaan yg sah-sah saja dilakukan.yg tdk boleh adlh penghancuran makna maulid dg tudingan bid'ah,sesat dll dari org-org dangkal pelaku penyesatan.biarkan saja!
di antara pemaknaan maulid adlh mjadikannya momentum utk meneladani Rosulullah.
"sungguh benar benar telah ada pada diri Rosulullah teladan yg baik utk org mengharapkan Allah dan hari kiamat dan banyak mnyebut Allah"
ayat ini mnyebutkan 3 sisi kepribadian beliau sbg contoh yg seyogyanya diteladani secara menyeluruh.
1.mngharapkan Allah,tdk yg lain.inilah sisi hakikat beliau.
2.mngharap hari akhir yg brarti sadar bahwa semua pbuatan akn dimintai prtanggungjawaban nnti.ini sisi syariat beliau
3.bnyak menngingat&menyebut Allah.berzikir sbg sisi thariqat beliau.
selebihnya teladan itu ada pada keseharian beliau yg mencangkup perkataan, prbuatan&kondisi ruhani (ahwal).prkataan beliau selalu benar.kebenaran yg keluar dari lisannya tdk pernah atas dorongan hawa nafsu.krn trkadang bnyk org mengatakan kebenaran atas dorongan hawa nafsu,entah kepentingannya, kelompoknya atau istilah ank skarang ke'narsis'annya.
perbuatan beliau,baik thd keluarga,tetangga dan skala lebih luas.dan yg sgt relevan hingga skrg beliau selalu berbuat utk membela org yg trtindas terutama tertindas scara ekonomi alias miskin.beliau amat cinta kpd org miskin.mncintai org miskin bkn brarti mlestarikan kmiskinan,ttapi mbebaskan org miskin dr posisinya yg marginal.beliau adlh pemimpin revolusi masakin trbesar spanjang sejarah.
ahwal atau kondisi ruhani adlh keadaan terus mngingat Allah kpn pun dmn pun.dalam keadaan diri duduk maupun tidur hati beliau selalu berzikir mengingat Allah.kriteria di atas mengingatkan sy akan sosok gusdur.
"katakanlah,jika kalian mencintai Allah maka ikuti aku"
sudahkah proses peneladanan kita mncakup hal-hal di atas? atau kita malah sibuk mnghrapkan selain Allah,mharap pujian makhluk ato dg dalih sunnah&pemurnian islam mgharapkn kebesaran mazhabnya&mnyesatkan golongan lain?!