Laman

Jumat, 20 Februari 2015

Salafi Kini Dan Salaf Soleh Dulu

Salaf dalam bahasa Indonesia berarti orang terdahulu. Dalam kebudayaan Islam Salaf memiliki arti khusus.

Salaf merujuk pada generasi setelah tabi'in. Tabi'in adalah generasi setelah masa para sahabat.

Sedangkan Salafi hari ini mununjuk kepada suatu kelompok yang menjalankan Islam secara murni.

Murni dalam arti kembali kepada cara hidup dan beragama generasi Nabi, sahabat dan tabi'in beberapa abad lalu.

Salafi kini berpakaian dan berpenampilan lahiriah meniru generasi awal Islam ratusan tahun silam.

Generasi salaf, bukan salafi kini, menghiasi periode emas Islam pada sekitar abad ke 8 Masehi atau sekitar abad ke 2 Hijriah.

Ada banyak peninggalan yang bisa dibanggakan dari generasi salaf. Antara lain berupa karya ilmiah yang hingga kini masih bisa ditelaah.

Dalam bidang Ilmu Kalam pemikiran Washil Bin 'Atha merupakan cikal-bakal Islam rasionalis di abad modern.

Faham Jabariah, Qadariah, Murjiah dan faham minoritas lainnya dibiasakan_bukan dibinasakan_dikaji dan dihormati dalam perbedaan.

Di bidang syariat fase salaf melahirkan 4 imam mujtahid yang kepadanya hukum-hukum fiqih dinisbatkan.

Empat Imam Mazhab besar dalam fiqih yang hingga kini pendapatnya masih diikuti para pengikutnya: Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi'i, Imam Hanbali.

Di bidang hadits, muncul Imam besar hadits, Al Bukhari, Muslim, Ahmad, At Tirmidzi, Ibnu Majah.

Di bidang Hadits dan tafsir muncul ulama yang toleran terhadap perbedaan dalam penggunaan metode dan hasil pemikiran.
&&
Selain peninggalan berupa buku atau pemikiran, demikian generasi salaf juga meninggalkan banyak teladan dalam akhlak.

Tidak heran jika Kanjeng Nabi Muhammad menyebut generasi salaf termasuk satu dari tiga generasi terbaik.

Pada periode salaf telah muncul banyak perbedaan pendapat dalam Islam, di bidang syariat, tasawuf, filsafat bahkan teologi atau ilmu ketuhanan.

periode Salaf ini sarat dengan perbedaan pandangan. Akibatnya semakin memperkaya khazanah ilmu.

Khazanah ilmu yang nantinya membuat Islam menjadi mercusuar peradaban dunia.

Khazanah ilmu yang pada gilirannya menyinari Eropa dan belahan dunia lain yang banyak belajar dari Islam.

Perbedaan pandangan dan perdebatan pendapat itu boleh dalam islam. Bahkan bisa membuat Islam semakin sempurna.

Suatu aliran atau mazhab punya kekurangan dan kekurangan itu dilengkapi oleh aliran atau mazhab lain.

Inilah kondisi yang dihadapi oleh generasi Salaf: hari-hari yang kaya akan perbedaan pandangan.

Apakah perbedaan pandangan itu melemahkan Islam dan membuat generasi salaf berpecah-belah?

Jawabannya, tidak! Sama sekali tidak! Karena generasi salaf yakin bahwa perbedaan pendapat dalam  umat adalah rahmat.

Akhlak luhur generasi salaf mengalahkan kebanggaannya sebagai pelaksana ajaran Nabi dan para sahabat.

Bukan malah bangga merasa paling memurnikan ajaran dan paling berhati-hati lalu mengalahkan akhlak.

Lagipula melaksanakan ajaran Nabi seharusnya secara utuh, bukan hanya lahiriah saja, cara berpakaian saja misalnya.

Akhlak Nabi yang pertama. Kedua, laksanakan semangat Nabi dalam menghargai tradisi di mana tempat beliau berdakwah, pada masa beliau berdakwah.

Kanjeng Nabi sangat menghargai konteks, tempat dan waktu beliau berdakwah.

Hingga penghargaan terhadap tradisi setempat menjadi akhlak Nabi dalam sikap berislam secara lokal, bukan global.

Dengan lokalitas Islam menjadi fleksibel dan kaya. Islam menjadi agama yang cocok dengan segala tempat dan waktu.

Dengan lokalitas Islam membuat perbedaan justru saling melengkapi. Saling menyempurnakan.

Ada kata-kata Imam Syafi'i yang sangat bijak dalam menyikapi perbedaan pandangan.

"Mazhab kami benar dan masih mengandung kesalahan. Mazhab di luar kami salah dan masih mengandung kebenaran."

Karenanya amat pantas mereka disebut sebagai salaf soleh. Bukan sekedar salafi-salafi biasa yang terkesan aneh.

Karena soleh berarti berlaku layak sebagai hamba sesuai zaman dan tempat di mana ia hidup.

Kalau para salafi di abad ini sangat berhati-hati dalam meneliti pemurnian ajaran, hati-hatilah dalam segala hal.

Termasuk juga hati-hati dalam menilai perbedaan dan orang yang punya pandangan agama yang berbeda dengan mereka.

Sehingga sifat ekslusif tidak lagi menjadi ciri dari salafi. Sikap inklusif jadi kehangatan mereka dalam menyikapi perbedaan.

Mari membangun cara beragama yang ramah dan toleran. Mari menciptakan Islam yang menjadi kasih sayang bagi semua golongan.

Wallahu a'lam bishshawab.

Kamis, 19 Februari 2015

Memancing Tuhan

Apa yang kita lakukan kadangkala harus dirahasiakan, cuma kita yang tau, kadangkala boleh diperlihatkan.

Solat lima waktu ada yang bacaannya dimunculkan atau jahar dan ada yang bacaannya dipelankan atau sirr.

Begitu juga sedekah. Satu waktu boleh disembunyikan, jangan sampai tangan kiri tau apa yang diberikan tangan kanan.

Satu waktu sedekah boleh ditampakkan, untuk mencontohkan orang agar ikut bersedekah juga, misalnya.

Kalau ada kekhawatiran riya' pamer dalam melakukan ibadah yang ditampakkan tadi justru harus dilawan.

Beberapa ibadah tetap Allah terima meskipun seolah pamer. Seolah pamer lho ya, bukan yang jelas-jelas pamer.

Yang jelas-jelas pamer yang akan diterima, oleh orang yang menonton pameran itu. Sedang yang seolah pamer, karena dituntut untuk menampakkan, insyaallah diterima oleh Allah.

Solat dan sedekah satu waktu dituntut untuk 'seolah pamer'. Dan itu boleh.

Yang sedang ngetrend sekarang ini bukan sedekah pamer, tapi sedekah ekstrim. Bersedekah dalam jumlah melampaui batas, tanpa menghiraukan akibat logisnya.

Misal seorang penjual pecel lele memiliki sejumlah uang dalam usahanya.

Sepertiga untuk operasional, sepertiga untuk mengembangkan cabang warung lain, sepertiga untuk cadangan tak terduga.

Pedagang pecel lele ini berdagang seperti biasa dengan biaya operasional dari sepertiga kekayaannya.

Di sisi lain, ia juga bersedekah dengan dua per tiga kekayaannya yang seharusnya untuk mengembangkan cabang dan dana cadangan.

Bersedekahlah ia dengan harapan dua per tiga harta yang ia sedekahkan kembali dengan jumlah berlipat ganda.

Seminggu, sebulan, setahun, keuntungan sedekah yang ia harapkan tidak datang juga.

Sementara usaha pecel lele yang sedang berjalan tidak mengalami kemajuan yang berarti.

Sementara teman-teman yang menjalani usaha dengan hitungan logis dan sedekah 'biasa' saja semakin maju.

Bahkan membuka banyak cabang di seantero kota dengan pembeli yang terus ramai.

Bagaimana dengan pengusaha yang bersedekah ekstrim tadi? Usahanya jalan di tempat. Umpan sedekah yang ia lemparkan tidak membuahkan apa-apa.

Ya, umpan! Ia seolah sedang memancing Kekayaan Tuhan dengan umpan sedekahnya.

Ini jenis sedekah yang menurut saya tidak boleh diajarkan.

Dari dua jenis sedekah yang boleh diajarkan cuma ada sedekah sirr (dirahasiakan) dan 'alaniyah (diumumkan).

Sedekah ekstrim tanpa memperhitungkan akibat logis dengan kesan memancing pemberian Tuhan tidak pernah diajarkan.

Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq memang pernah menyumbangkan seluruh kekayaannya untuk ekspedisi Tabuk. Tidak ada yang seperti beliau.

Tapi ini beliau lakukan untuk tujuan mencontohkan orang banyak agar ikut bersedekah. Sama sekali bukan memancing kemurahan Allah.

Sampai akhir hayatnya beliau bahagia dalam kesederhanaan, bukan nelangsa sebab pancingan sedekah tidak membuahkan apa-apa.

Betul bahwa menanam satu biji akan menumbuhkan tujuh tangkai. Setiap tangkai membuahkan seratus biji.

Betul bahwa Allah mampu melipatgandakan lebih dari itu untuk orang yang Dia kehendaki.

Betul bahwa sedekah itu menghindarkan bencana. Betul semua yang termaktub dalam teks agama.

Dan logika tetap harus digunakan untuk menolak sedekah ekstrim yang cuma memancing Gusti Allah menurunkan balasannya.

Keikhlasan juga jadi pondasi utama dalam segala hal, termasuk sedekah ini. Mari bersikap logis dan ikhlas dalam bersedekah.

Semoga kita tidak termasuk orang yang memancing kekayaan Tuhan tanpa keikhlasan.

Semoga kita tidak terpancing oleh pemancing sedekah ekstrim tanpa perhitungan matang dan ketulusan.

Wallahu a'lam bishshawab.

Selasa, 17 Februari 2015

Memanggil Tuhan atau Sponsor dan Iklan

Satu hari saya bertemu dengan seorang kawan di satu kajian. Dia menceritakan obrolannya beberapa waktu lalu dengan umat Budha.

Di Taman Mini Indonesia Indah, penganut Budha ini bertanya kepada teman saya, "Apa menurut umat muslim Tuhan itu jauh?" Tidak, jawab teman saya. "Lalu mengapa dalam berdoa umat muslim sering memakai pengeras suara?" Teman saya bilang, itu cuma sebagian muslim saja, tidak semua. Saya pribadi tidak setuju dengan pengeras suara yang mengesankan kementang-mentangan mayoritas. Ojo dumeh!

Kalaupun untuk memanggil solat, cukup satu kampung satu pengeras suara. Bacaan solat tidak usah dikeraskan keluar masjid, apalagi doa dan pengajian, tabligh akbar dan semacamnya. Kalaupun butuh pengeras suara, cukup suara untuk menjangkau jamaah pengajian di majlis itu saja. Karena kita hidup bersama saudara kita yang mungkin punya kesibukan lain, atau butuh ketenangan dari suara bising. Apalagi berdoa sambil menangis-nangis di depan kamera!

Seusai dari ekspedisi Khaibar, Kanjeng Nabi melewati lembah dan perbukitan. Bersama pasukan menikmati perjalanan pulang. Tiba-tiba, sebagian orang berteriak-teriak megucapkan 'La ilaha illallah' dengan suara keras. Nabi menegur mereka, "Untuk diri kalian sendiri! Kalian bukan sedang memanggil Orang Tuli yang jauh. Sesungguhnya yang kalian panggil adalah Yang Maha mendengar lagi maha dekat."

Memanggil Allah, berdoa dalam bahasa arabnya, punya beberapa tata-krama yang harus dipatuhi. Pertama,cuma kepada Allah. Karena yang dipanggil adalah Allah semata, maka adab berikutnya harus terpenuhi: merendah, bersuara pelan, tidak berlebihan, takut dan penuh harap.

Merendahlah. Bagaimana mungkin kita butuh kepada Allah dan minta kepada-Nya dengan sikap tinggi hati, ujub dan merasa paling dekat dengan-Nya. Bersuara pelan. Sebab Allah lebih dekat dari nadi kita, Maha mendengar segala yang samar. Berdoalah dengan tenang dan penuh keyakinan, bukan dengan berteriak skeptis terhadap kemahamendengaran Allah.

Jangan berlebihan dan mendikte Allah. Seseorang berdoa kepada Allah agar diberikan bidadari surga yang menyambutnya datang dari sisi kanan surga. Menuangkan air minum ke cawan dan memandikannya. Memohon perlindungan kepada Allah dari siksa hidup, tetangga yang buruk, penghasilan yang minim, keadaan kekurangan jajan anak-anak dan kebangkrutan usaha kecilnya: jual pulsa dan es lilin. Ini doa yang berlebihan. Mintalah kebaikan dunia akhirat. Mohonlah perlindungan dari segala hal buruk. Cukup itu. Tidak berlebihan.

Takutlah kepada Allah kalau ia membalas dosamu dan menolak amal-ibadahmu. Penuhkan harapmu cuma kepada Allah. Hilangkan sikap pesimis terhadap pemberiannya dan karuniaNya yang maha banyak.

Dan lebih dari segala adab di atas, berdoalah dari satu titik keberangkatan: taubat dan hati yang bersih. Wallahu a'lam bishshawab.

Rabu, 07 Mei 2014

Hidup dan Tegukan

http://penawaktu.tumblr.com/post/82073184237/sungguh-hidup-cuma-satu-tegukan-dari-sebuah

Sabtu, 21 Mei 2011

Tetap Sendiri

aku adalah kesendirian yang hening
dalam malam dan siang bising
seperti kesetiaan daun pada angin
tetap berpeluk pada gerak hampa ingin

aku adalah detik
yang menggenapkan waktumu
adalah titik
yang menyempurnakan ruangmu

aku di sini
tetap sendiri
sebentuk sunyi yang menepi
antara hidup dan mati

Minggu, 01 Mei 2011

Surat Singkat Pendidikan Nasional


Jakarta, 2 Mei 2011

Salam Indonesia! Salam Pendidikan!

Mengharap pendidikan gratis semua jenjang _tanpa bonus jajan di kantin dan wifi pun_ bagi kita anak Indonesia adalah sebuah harapan besar. Jangan lupa, tidak kalah penting gratis uang pangkal, uang bangunan, gratis buku, SPP atau segala pungutan berkedok apapun. Jangan janji saja dibebaskan dati SPP misalnya, tapi ternyata Cuma merubah istilah SPP dengan uang perawatan atau operasional pembelajaran.

Selain itu perlu kiranya merubah paradigma pendidikan elitis, yakni memandang pendidikan sebagai pencetak elit-elit ilmiah yang enggan menyentuh kenyataan ril di masyarakat: Bagaimana mengurangi kemiskinan kota, keterbelakangan daerah tertinggal, mecegah kebohongan dan korupsi, menkontrol penguasa pusat atau daerah yang tidak adil dan banyak lagi.

Sudah seharusnya pendidikan diarahkan untuk memberdayakan masyarakat agar mampu mengangkat, paling tidak, perekonomian diri dan keluarga. pendidikan harus bisa membuat makmur. Karena dengan kemakmuran seseorang tak akan mudah dimanfaatkan penguasa yang punya kepentingan. Sudah banyak org pandai dan komentator. Waktunya berhenti membuat pepesan kosong dan melakukan apa yang harus dilakukan, yaitu mengangkat harkat hidup dengan ekonomi.

Bagi Penguasa, entah penguasa politis atau penguasa perekonomian masyarakat, yang paling menakutkan adalah anak didik yang mapan secara ekonomi, solid, cerdas dan tidak bergantung kecuali dengan usaha sendiri. kalau anak didik mapan secara ekonomi, cerdas, mandiri, tidak akan mudah direkrut oleh parpol bejat atau ormas macam FPI, FUI, NII, GAPAS dan lain-lain. Anak didik yang sempurna lebih memilih cara bijak, tukar pendapat, dan dialog dalam menyelesaikan masalah.

Mengenai proses mencetak anak didik, sebagai contoh, KH Hasyim Asy'ari tidak menginginkan semua santri jadi ahli agama. namun menjadi apa saja yang memberi manfaat bagi manusia, bukan bagi ormas dan partai.

Dari sini, nyatalah bahwa pendidikan harus menciptakan lapangan kerja, bukan hanya menyediakan tenaga kerja untuk pengusaha dan penguasa. pendidikan harus mampu menciptakan usaha, misalnya perkebunan, bukan malah menjual kebun  untuk pendidikan tak bermutu.

Dalam keseharian siswa di kelas tentu ada perbedaan, mulai dari latar belakang keluarga, ekonomi, keyainan dan seterusnya. Ini terus berjalan secara harmonis. Alhasil pendidikan membuahkan sikap toleransi terhadap perbedaan, karena pribadi terdidik memaklumi kesenjangan pemahaman dan bahkan perbedaan keyakinan. pendidikan memerdekakan diri sendiri dari kepentingan murahan dan menghargai kemerdekaan orang lain serta kebaikan bersama meskipun dalam perbedaan. muatan pelajaran yang sarat dengan keindonesiaan harga mati untuk pendidikan nasional sebagaimana NKRI adalah harga mati untuk kehidupan kebangsaan. pendidikan nasional harus membentengi dari pelatihan, liqo, training, halaqoh, atau apapun yang mencoba merobek merah putih dan keindonesiaan. pendidikan harus mencegah dari mental mengemis kepada kekuasan. pendidikan harus mencipta manusia yg berdaulat dlm dirinya sendiri. pendidikan mesti menjadi semacam kekuatan yang menakutkan bagi kekuasaan korup dan hipokrit, atau kekuasan terpaksa harus adil dan jujur mengikuti kebenaran.

Yang terakhir juga terpenting, pendidikan semestinya membuka pikiran, melapangkan dada, dan memandang jauh ke depan untuk kebaikan kemanusiaan.

Salam!

Rabu, 09 Maret 2011

Tangis Biarawan Dan Haru Pendeta

Penghitugan tahun dalam catatan sejarah islam sebelum hijrah biasanya menggunakan tahun pasca kenabian atau setelah diangkatnya Junjungan kita Muhammad sebagai Nabi dengan turunnya wahyu pertama di gua Hira’. Pada tahun ke lima pasca kenabian pemeluk islam dari suku Quraisy Makkah bertambah banyak. Keadaan ini membuat orang-orang kafir Quraisy gerah. Mereka bermusyawarah dan memutuskan untuk melancarkan terror terhadap pemeluk islam Makkah. Mereka siksa dan sakiti orang muslim Makkah. Sedangkan Rosulullah Muhammad SAW kala itu masih di dalam perlindungan pamannya Abi Thalib yang termasuk disegani bangsa Quraisy sehingga penyiksaan kaum kafir Makkah tidak sampai menyentuh beliau SAW. 

Mempertimbangkan keselamatan ummatnya, Rosulullah SAW memerintahkan mereka hijrah ke suatu negeri yang bernama Habasyah. “Pergilah kalian ke Habasyah. Di sana ada seorang raja yang tidak pernah zhalim terhadap siapa pun. Berangkatlah hingga Allah menentukan kebahagiaan kepada ummat Islam,” demikian kiranya anjuran beliau. Habasyah kala itu dipimpin oleh seorang raja nashrani. Maka berangkatlah sebelas orang muslim laki-laki dan empat orang perempuan ke negeri Habasyah dengan sembunyi-sembunyi. Mereka adalah Utsman Bin Affan dan istrinya, Ruqayyah putri Rosul, Zubair Bin Awwam, Abdullah Bin Mas’ud, Abdur Rahman Bin Auf, Abu Hudzaifah bin Utbah dan istrinya Sahlah, Mush’ab bin Umair, Abu Salmah bin Abdil Asad dan istrinya Ummu Salmah Binti Umayyah, Utsman Bin Mazh’un, Amir Bin Robi’ah dan istrinya Laila, Hathib Bin Amar, dan Suhail Bin Baidha’. Mereka pergi dengan perahu yang dibeli seharga setengah dinar. Perjalanan ini tepatnya terjadi pada bulan Rajab tahun ke lima pasca kenabian.

Setelah kelompok pertama di atas, Ja’far Bin Abi Thalib dan sekelompok muslim berikutnya menyusul ke negeri Habasyah. Alhasil, jumlah muslim Makkah yang pergi ke sana mencapai delapan puluh dua orang, belum termasuk wanita dan anak-anak. Mereka tinggal di sana dalam keadaan aman.
Sejarah terus bergerak ke depan. Rosulullah SAW telah hijrah ke Madinah bersama kaum Muhajirin. Kafir Quraisy mengalami pukulan dahsyat dalam perang Badar di mana para pemuka dan pejuang hebat mereka gugur. Pukulan ini membuat mereka marah. Enggan menyerang Madinah, Kemarahan itu mereka lampiaskan dengan menjemput muslim yang berada di negeri Habasyah. Kata mereka, “Kemarahan kalian itu ada di tanah Habasyah. Maka berilah Negus (Gelar Raja Habasyah) yang bernama Ashimah hadiah. Utuslah dua orang mengantarkan hadiah itu agar dia menyerahkan orang muslim yang ada di Habasyah kepada kalian. Setelah itu, silahkan kalian bunuh mereka untuk keluarga kalian yang terbunuh di Badar.”

Amru Bin Ash (sebelum masuk islam) dan Abdullah bin Robi’ah resmi menjadi utusan kafir Quraisy menghadap raja Habasyah. Keduanya berangkat dengan membawa hadiah untuk raja agar dia menyerahkan orang-orang muslim kepada kafir Quraisy. Di hadapan raja Habasyah keduanya menyampaikan maksudnya.
“Wahai Raja, dari bangsa kami telah muncul seseorang yang mengaku Nabi. Nabi itu mengirim sekelompok sahabat-sahabatnya ke negerimu ini untuk merusak dan menghancurkan bangsamu. Kami dengan senang hati mengabarkan siapa sesungguhnya mereka itu. Dan sebenarnya bangsa kami di Makkah memintamu menyerahkan orang-orang itu kepada mereka,” kata keduanya dengan diplomasi yang cakap.
“Baiklah, sampai Kami memberi tahu orang-orang itu,” ujar Negus. Lalu ia memerintahkan orang untuk memanggil kaum muslimin. Singkat cerita, hadirlah orang-orang muslim di pintu Negus.
“Para Kekasih Allah meminta izin masuk kepadamu, wahai Raja,” kata para pengawal.
“ Izinkan mereka masuk. Selamat datang wahai para kekasih Allah,” sambut Negus.
Orang-orang muslim masuk dan mengucapkan penghormatan, “Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Wahai Raja, lihatlah mereka! Mereka tidak memberi penghormatan yang seharusnya kepadamu,” ujar sebagian kafir Quraisy.
“ Kenapa kalian tidak memberi penghormatan kepadaku sebagimana penghormatan yang seharusnya?” Tanya raja kepada orang-orang muslim.
“Kami memberi hormat kepadamu dengan penghormatan para penghuni surga dan penghormatan para malaikat, wahai Raja.” Jawab orang muslim pasti.

Dari sini terjadi dialog antara Negus dan orang Muslim yang dijurubicarai oleh Ja’far bin Abi Thalib. Mulailah Negus bertanya, “ Apa yang dikatakan sahabatmu, Muhammad, tentang Isa dan Maryam?”
Ja’far Bin Abi Thalib menjawab, “ Isa adalah hamba Allah, utusan-Nya, kalimah-Nya, dan Ruh dari-Nya yang ia tiupkan kepada Maryam. Sedangkan Maryam adalah perawan yang tidak menikah.”

Raja kemudian mengambil sepotong kayu dari bumi dan berkata, “Demi Allah, sahabatmu itu tidak menambahkan apa-apa yang dikatakan Isa meskipun seukuran kayu ini.”

Orang-orang musyrik yang ada di situ jengkel mendengar jawaban Negus. Wajah mereka tampak berubah dengan kebencian. Namun Negus tetap melanjutkan pertanyaannya, “Taukah kamu sebagian yang telah diturunkan kepada sahabatmu itu?”
Maka Ja’far BinAbi Thalib membacakan Surat Maryam. Di pertemuan ini terdapat para biarawan dan pendeta serta segenap orang nashrani lainnya. Mereka mengenal apa yang dibacakan oleh ja’far Bin Abi Thalib. Air mata mereka menetes deras. Mereka terus menangis tanpa henti hingga Ja’far selesai membaca. 

“Pergilah kalian semua! Kalian di negeriku ini akan tetap aman,” kata Negus kepada Ja’far dan orang-orang Muslim. Sementara itu Kedua utusan kafir Quraisy pulang ke Makkah dalam perasaan takut.
Orang-orang muslim hidup di sisi Negus dalam tempat tinggal terbaik dan para tetangga yang terbaik pula. Hingga kedudukan Rosulullah dan orang muslim semakin kuat dan orang kafir semakin lemah pada kurun waktu tahun keenam pasca hijrah. Rosulullah menulis surat kepada Negus. Amr Bin Umayyah menyampaikan surat beliau itu yang berisi tawaran agar Negus berkenan menikahi Ummu Habibah binti Abi Sufyan yang juga telah hijrah ke habasyah bersama suaminya. Suaminya kini telah meninggal. Tawaran ini diterima Negus. Ia lalu mengutus hamba sahaya perempuan miliknya bernama Abrahah untuk menyampaikan pinangan Rosulullah untuk Sang Negus. Betapa senangnya Ummu Habibah. Negus memberikan mas kawin untuknya sebanyak empat ratus dinar sudah sedia dibawa oleh Abrahah.
Abrahah berkata, “ Engkau telah membenarkan Muhammad dan beriman kepadanya. Aku ingin engkau menyampaikan salam dariku untuknya.”
“Ya,” sahut Ummu Habibah. Maka kemudian pergilah Ummu Habibah ke Madinah. Namun Rosulullah SAW sedang di Khaibar (sebuah kawasan di luar Madinah). Ummu Habibah menetap di Madinah hingga Rosulullah tiba. Saat waktunya, ia masuk kepada Rosulullah dan menyampaikan salam.
“ Aku sampaikan salam dari Abrahah, hamba sahaya Negus: Assalamu ‘alaika Ya Rosulallah,” ucap Ummu Habibah.
Rosulullah menjawab salam Abrahah yang dibawa oleh Ummu Habibah, “’Alaiki wa ‘alaihassalam.”

Setelah itu, Ja’far Bin Abi Thalib pun bermaksud menghadap Rosul juga pada saat beliau masih berada di Khaibar. Ia bersama tujuh puluh laki-laki dengan pakaian wol (shuf. Konon kata sufi berasal dari kata ini). Tujuh puluh itu terdiri dari enam puluh dua laki-laki dari Habasyah dan delapan pendeta Syam (sekarang Syiria). Delapan pendeta itu adalah Buhaira dan tujuh sahabatnya, Abrahah, Asyraf, Idris, Tamim, Tamam, Duraid, dan Ayman. Para pendeta tersebut adalah dari kelompok orang-orang terdekat Negus. 

Pertemuan berlangsung khidmat. Rosulullah membacakan surat Ya Sin di hadapan mereka hingga selesai. Seluruh mereka yang hadir menangis. Mereka beriman dan menyatakan masuk Islam.
“Betapa serupa dan sama bacaan tadi dengan apa yang turun kepada Isa Alaihissalam,” kata mereka penuh ketaatan dan keharuan.

Kalau ada yang dengan ‘ngotot’ ( mungkin ga terbiasa ‘ngotak’, ngelatih otak) bilang, “Itukan nashrani dulu. Nashrani sekarang sudah jauh lebih buruk dibanding pendahulu mereka,” maka tanggapan pernyataan ini menunjuk sepuluh jari kepada si pembicara. Maksud saya pernyataan di atas menyerang balik si pembicara, “Umat muslim dulu begitu arif dan lembut. Umat muslim sekarang jauh lebih buruk dibanding para pendahulu mereka.” 

Kalau Ja’far Bin Abi Thalib mau membantai dua orang utusan kafir Quraisy maka hal itu sangat mudah. Rosulullah begitu akrab dan ramah kepada raja nashrani Negus. Beliau dan umat muslim tidak menjadi arogan meskipun di atas kertas pasti menang berperang untuk menundukkan mereka. Namun islam diturunkan untuk kasih sayang seluruh manusia dan alam semesta. Betapa arif dan lembutnya Rosulullah dan umat muslim kala itu. Dus, Silahkan menikmati indahnya introspeksi. Jika ada yang menghalalkan kekerasan, maka saya jadi orang pertama yang bersikap keras kepada kelompok garis keras. Namun tetap sambil tersenyum. Nyum, nyum, nyum.

Kalau masih orang keras itu (lebih bahaya dari air keras yang ini!)ngotot juga persilahkan dia membuka ayat tentang umat yahudi dan nashrani pada surat al maidah ayat 82. Ada catatan terakhir yang kita bisa fahami dari ayat yang saya rujuk, yakni mereka tidak menyombongkan diri. Antara tiga serangkai pemeluk agama langit ini, yang menyombongkan dirilah yang paling jauh dari rahmat Allah. Semoga kita dilindungi dari itu.